Monday, September 8, 2008

Rumput Laut: Harapan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Ketika pemerintah khususnya Depatemen Kelautan dan Perikanan mencanangkan revitalisasi perikanan dan kelautan dengan memacu produksi beberapa komoditas unggulan nasional yang salah satu diantaranya adalah rumput laut, ini menjadikan harapan baru bagi masyarakat pesisir Khususnya di kawasan Timur Indonesia seperi di Sulawesi Tenggara. Terlebih setelah Gubernur Provinasi Sulawesi Tenggara mencanangkan bahwa rumput laut menjadi produk andalan provinsi Sulawesi Tenggara.
Dengan Luas perairan yang diperkirakan mencapai 110.000 km2 atau 11.000.000 ha. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi pengembagan perikanan yang sangat besar. Dan potensi tersebut diantaranya adalah pengembangan usaha budidaya rumput laut. Walaupun sampai dengan tahun 2005 potensi pengembangan usaha budidaya rumput laut diperkirakan hanya sebesar 83.000 Ha, ini menggambarkan bahwa potensi tersebut masih sangat besar untuk terus di kembangkan. Jika dilihat dari produksi rumput laut masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara khususnya di Kawasan daerah kepulauan seperti Kabupaten Buton, Buton Utara, Bombana, Muna, Wakatobi dan Kota Bau-Bau, total potensi produksi dapat mencapai 796.800 ton/thn. Namun demikian sampai saat ini potensi produksi tersebut baru mencapai 31.000 ton/ thn.
 
Usaha budidaya rumput laut merupakan salah satu usaha budidaya yang paling mudah untuk dilakukan. Dengan modal yang tidak terlalu besar, beberapa keluarga masyarakat pesisir dapat melakukan usaha budidaya rumput laut di sekitar perairan mereka.Terlebih lagi pada mayoritas daerah pesisir Kawasan Timur Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara, pada perairan yang berada diluar jalur transportasi umum dan tradisional, mempunyai kondisi yang sangat memungkinkan untuk melakukan usaha budidaya rumput laut. Dengan persyaratan kondisi oceanografi pada kisaran yang normal termasuk kecepatan arus dan gelombang serta tinggi pasang surut dan konsentrasi kandungan unsur hara perairan yang normal sangat memungkinkan pengembangan usaha ini terus dilakukan. Saat ini pola budidaya rumput laut yang diterapkan masyarakat pesisir umumnya telah beralih dari sistem rakit ke sistem long line yang lebih memberikan harapan peningkatan produksi yang lebih besar. Sistem longline memungkinkan pemanfaatan ruang budidaya yang lebih luas pada kedalaman yang sangat bervariasi antara 5 – 50 m, tergantung pada kemampuan modal masyarakat untuk membeli tali, pemberat dan pelampung. Dengan modifikasi tali bersusun, beberapa pembudidaya juga dapat menerapkan pemanfaatan ruang persegi dengan lebih optimal. Jarak antar tali secara horizontal dapat disesuaikan dengan bentangan tali yang ada. Pada bentangan tali sampai dengan 100 m persatu bentangan, dapat memparalelkan dengan tali yang lain pada jarak 5 m. Ini diharapkan agar tiap tali tidak saling mengait. Sehingga optimalisasi penggunaan ruang persegi dilakukan dengan baik. Hal yang menarik dari usaha budidaya rumput laut adalah masyarakat dapat memanen rumput laut mereka dengan hanya 45 hari penanaman dilaut. Nilai pertambahan produksi dari bibit yang ditanam dapat mencapai 10 - 14 kali pertumbuhan bibit yang ditanam. Namun saat ini nilai tersebut sudah semakin berkurang sehingga keuntungan yang dirasakan masyarakt semakin berkurang.

Hal yang menjadi kendala terbesar untuk memacu pertumbuhan rumput laut di Kawasan Timur Indonesia adalah karena tidak adanya bibit yang baik (masyarakat masih tergantung pada pola stek), banyaknya hama penggangu seperti lumut, crustacean kecil penggagu, ikan pemakan rumput laut serta epiphyte lain yang menjadi komptitor unsur hara. Untuk memenuhi pertumbuhannya, rumput laut hanya mengandalkan cahaya matahari dan unsur hara seperti nitrite nitrate dan phosphate. Namun jika terjadi pelekatan berbagai lumut dan macro alga penggangu, ini akan sangat menylutkan bagi penyerapan unsur tersebut oleh rumput laut. Belum lagi beberapa ikan seperti Siganus sp yang sangat menyukai rumput laut sehingga dengan cepat dapat memakan tunas-tunas muda dari rumput laut. Ditambah dengan serangan penyakit ice-ice yang semakin merajalela. Penyakit ice-ice ini dapat mematikan rumput laut dengan sangat cepat. Dari hasil perhitungan sementara, nilai normal yang seharusnya di rasakan oleh masyarakat dapat mencapai 10 – 14 kali pertumbuhan dari bibit awal, namun dengan berbagai kendala tersebut, produksi rumput laut masyarakat dapat berkurang hingga menjadi 4 – 6 kali dari pertumbuhan bibit awal. Sehingga dapat ditaksir masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara kehilangan 18.000 ton/thn. Jumlah kerugian ini akan terus meningkat jika kita tidak mengadakan usaha-usaha pendampingan kemasyarakat dan jika kita tidak melakukan strategi solusi yang seharusnya dapat kita lakukan.

Untuk memacu produksi rumput laut Sulawesi tenggara kita mulai dapat melakukan beberapa strategi pendekatan diantaranya :

  • Meregenerasi bibit rumput laut dengan menggunakan bibit yang dihasilkan dari upaya generative dan bukan vegetative yang selama ini dilakukan masyarakat.
  • Mengidentifikasi masalahan per areal sehingga dapat meminimalisasi serangan hama dan penyakit yang ada.
  • Merancang pola budidaya yang sesuai dengan topografi daerah.
  • Melakukan pendampingan untuk mengontrol perlakuan masyarakat terhadap usaha budidaya yang dilakukan.

Kesemuanya ini dapat dilakukan dengan pola yang sinergis sehingga peningkatan produksi rumput laut dikawasan timur Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara dapat memberikan harapan baru bagi peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Sangat diharapkan bahwa peningkatan nilai jual rumput laut yang sampai dengan bulan Agustus 2008 yang berkisar Rp 18.000 – 20.000 ini dapat terus bertahan dan masyarakat dapat meningkatkan produksinya dengan catatan bahwa permintaan pasar dunia khususnya yang berasal dari Cina dapat terus tertuju ke Indonesia. Harapan baru untuk meningkatkan ekonomi ini juga akan berimbas pada pelestarian sumberdaya mangrove dan terumbu karang karena masyarakat akan lebih terkonsentrasi untuk menjaga dan melakukan usaha budidaya rumput laut dengan baik tanpa harus melakukan upaya exploitasi dengan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan.

Posted by Maruf Kasim at 05:50:04 | Permalink | Comments (3)

Monday, June 9, 2008

Strategi Penyelamatan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut

Oleh : Ma’ruf Kasim, PhD.

 

Sumberdaya pesisir dan laut menyimpan potensi yang sangat strategis dalam peningkatan pembangunan kawasan timur Indonesia.  Namun demikian, pemanfaatan sumberdaya tersebut belum menunjukkan adanya suatu keseriusan upaya yang optimal dan lestari. Banyaknya ekosistem yang berada didaerah pantai menggambarkan betapa tingginya daya dukung lingkungan pesisir dan laut  terhadap kehidupan masyarakat.  Peningkatan pertumbuhan masyarakat pesisir yang sangat signifikan mendorong upaya pemanfaatan sumberdaya pesisir begitu tinggi dan menyisakan degradasi yang mulai parah.
Beberapa kegiatan yang dapat merusak sumberdaya pesisir dan laut diantaranya :
Q        Kegiatan reklamasi pantai  dapat membunuh jutaan bibit ikan dan hewan laut ekonomis sebagai akibat penimbunan ekosistem lamun. Ekosistem lamun merupakan daerah pembesaran bagi ikan-ikan kecil dan hewan laut lainnya karena menyimpan berjuta makanan yang sangat sesuai untuk ikan-ikan kecil dan hewan ekonomis lainnya.
Q        Konversi Hutan mangrove sebagai lokasi pertambakan dan lokasi pemukiman mendorong degradasi hutam mangrove hingga ribuan  hektar di seluruh kawasan Timur Indonesia.
Q        Penggunaan Bom dan bahan beraruc seperti Cianida sampai tahun 2007 telah menyisakan kerusakan terumbu karang hingga mencapai 70 % dari total luasan terumbu karang Indonesia umunya dan Kawasan Timur Indonesia khususnya.

 

Sangat disadari bahwa pembangunan pasti akan menjadikan lingkungan sebagai tumbal yang harus dikorbankan, Namun demikian juga harus disadari bahwa perlu kearifan yang lebih bijaksana untuk memberikan kompensasi pada lingkungan sebagai hasil kerja pembangunan yang terus meningkat. 
Pertanyaannya, siapakan yang harus membayar kompensasi tersebut. Apakah masyarakat, Pemerintah, atau swasta.
Secara bijak dapat kita  katakan bahwa seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan swasta bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan, tinggal bagaimana keterlibatan semua pihak untuk saling dukung dalam memberikan sumbangsih bagi kompensasi tersebut.
Seberapa besar dan bagaimana wujud kompensasi tersebut , sangat tergantung pada kondisi rill yang terjadi termasuk kondisi topografi daerah masing-masing.  Spesifikasi tersebut dipengaruhi  oleh jenis ekosistem yang terdegradasi dan seberapa besar tekanan terhadap sumberdaya yang ada.

 

Adanya perusakan lingkungan untuk reklamasi pantai yang menutupi ratusan hektar habitat lamun dan atau degradasi hutan mangrove, diharapkan adanya upaya transplantasi lamun pada beberapa lokasi yang menurut kajian ilmiah dapat dilakukan dan atau melakukan rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove  pada lokasi yang berbeda.

 

Peran masyarakat  sangat strategis dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya pesisir dan laut. Wujud rill dari kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan tidak tumbuh dengan sendirinya. Namun perlu upaya dari stake holder lain dalam menumbuhkan kesadaran tersebut. Sebagiam besar masyarakat pesisir telah terbiasa  dengan pemahaman bahwa ikan dilaut tidak akan habis. mereka menganggap bahwa laut menyimpan sumberdaya yang tidak akan pernah habis.
Keterbatasan pemikiran semacan ini yang mendorong dilakukannya usaha-usaha exploitasi sumberdaya ikan dan hewan laut dengan alat yang tidak ramah lingkungan.

 

Untuk mengubah pola pikir ini tidak, tidak cukup dengan hanya memberikan penyuluhan yang bersifat instant dan ataupun program pemberdayaan yang bersifat musiman.
Dorongan yang terkuat dari adanya tindakan perusakan lingkungan adalah kesejahteraan masyarakat itu sendiri.  Masyarakat pesisir butuh peningkatan pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk itu perlu pendekatan yang permanen sampai pada batas waktu dimana kesejahteraan masyarakat dapat di tingkatkan atau paling tidak adanya mata pencaharian alternative untuk membiayai kehidupan sehari-hari mereka tanpa harus merusak lingkungan. Indikator perubahan tersebut dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang beralih profesi dari menangkap ikan menjadi petani ikan atau membudidayakan ikan dan non ikan seperti rumput laut.

 

Sebagian besar masyarakat pesisir sulit untuk menerima masukan yang sifatnya hanya penyuluhan semata tanpa dibarengi dengan intensitas pemberian yang terus menerus. Untuk itu pendekatan strategis yang dapat dilakukan untuk dapat memberikan perubahan pemahaman bagi masyarakat pesisir  adalah dengan pendekatan cultural yang benar-banar berbasis pada kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini yang sementara dan terus dikembangkan oleh Progran Coremap kabupaten Buton didaerah-daerah pesisir kabupaten Buton. Disamping itu juga untuk menumbuhkan rasa kecintaan yang lebih kuat dimasyarakat dibentuk lembaga-lembaga tingkat desa yang diprakarsai oleh masyarakat itu sendiri yang bertujuan untuk menjaga Terumbu karang sebagai salah satu habitat sangat penting di daerah mereka. 

 

Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya fasilitator pemberdayaan masyarakat yang menetap dan paling tidak terus memfasilitasi masyarakat untuk mengadakan upaya-upaya perlindungan sumberdaya tingkat desa.
Dukungan motivator tingkat desa juga dapat dibentuk agar dapat memberikan pemahaman yang secara terus menerus di tingkat desa. Penempatan motivator desa yang berasal dari desa tersebut, dipercaya dapat memberikan pendekatan dan motivasi  terus menerus kepada masyarakat desa.

 

Kegiatan strategis yang dapat dikembangkan ditingkat desa dalam rangka perlindungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya pesisir dan laut adalah pembentukan daerah perlindungan laut (DPL), yang ditunjang dengan pembuatan Peraturan desa (Perdes). Ini dapat   memberikan kepastian hukum tentang pengelolaan sumberdaya alam khsusnya pesisir dan laut bagi masyarakat desa.  Penyusunan DPL dan Perdes dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat yang juga aturan tiap butir pelanggaran ditetapkan bersama dengan difasilitasi oleh motivator tingkat desa akan memberikan solusi terbaik pagi penjagaan sebagian kawasan pesisir. 

 

Disamping itu menumbuhkan potensi kearifan lokal dibeberapa daerah dapat menjawab keberlasungan pemanfaatan sumberdaya.  Masyarakat akan didorong untuk memanfaatkan sumberdaya secara arif dan bijaksana sehingga keberlangsungan sumberdaya pesisir dan laut dapat terus berlangsung.

Posted by Maruf Kasim at 05:49:36 | Permalink | No Comments »

Saturday, June 7, 2008

Mengenal Pola Rehabilitasi Mangrove Partisipative

 


Hutan mangrove di kawasan Kawasan Pesisir umumnya didominasi oleh beberapa jenis diantaranya; Rhizophora spp., (Rhizophora apiculata, R. Mucronata, R. stylosa dll) , Soneratia spp (Sonneratia caseolaris, Soneratia alba, dll), Avicennia alba, Bruguiera spp, Aegiceras corniculat, Nypa fruticans, ,Cerbera spp., Xylocarpus spp., Lumnitzera racemosa, Heritiera littoralis dan Excoecaria agallocha.

Jika dilihat dari segi zonasinya, jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.). Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).
Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

 

Tahapan yang dapat dilihat secara praktisi adalah :


1.
  
Survei dan Penetapan lokasi penanaman
Kegiatan survei lapangan dapat melibatkan beberapa orang yang mengenal dengan dekat lokasi yang akan menjadi sasaran kegiatan penanaman.  Pada kegiatan ini di lakukan upaya identifikasi jenis-jenis mangrove yang ada, karakteristik substrat serta kondisi rill hutan mangrove. 
Tipe substrat didominasi oleh tipe substrat berlumpur dan dibeberapa tempat ditemukan substrate berpasir dan kadang bercampur cangkang bivalvi dan gastropoda mati. 
Bahkan yang lebih ekstrin di Kawasan Pesisir teluk lasongko Indonesia terdapat mangrove yang tumbuh diatas batuan cadas.
Mengingat lokasi yang akan di jadikan sasaran rehabilitasi terdapat di dalam kawasan hutan mangrove, maka kondisi rill yang akan menjadi pertimbangan utama adalah jenis mangrove yang sesui untuk ditanam sesuai dengan karakteristik dan tipe subrat berlumpur, berpasir, lumpur berpasir, dan atau bercampur kerang-kerangan mati.  Karakteristik spesifik dibeberapa tempat juga adanya aliran-aliran kecil sungai yang menjurus keteluk.  Tentunya jika ada yang kondisinya seperti ini, upaya rehabilitasi sedapatnya tidak di lakukan pada daerah aliran sungai–sungai kecil karena hanya akan mengalami kegagalan. 

 

2.    Persemaian dan Pembibitan Mangrove .
Pengumpulan bibit sebaiknya dilakukan oleh kelompok yang dibentuk didesa.  Jenis bibit yang akan di jadikan bibit adalah yang dominan berada di sekitar areal rehabilitasi.  Pertimbangan yang lain adalah dengan melihat struktur tanah dan ekologi kawasan rehabilitasi.   Jenis Rhizophora mucronata adalah jenis bibit yang mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap tekanan ekologi.  Untuk meningkatkan presentase kelangsungan hidup penanaman mangrove, dilakukan upaya persemaian untuk bibit yang akan di tanam.  Persemaian di lakukan disekitar areal penanaman. Ini untuk memudahkan akses penanaman. 
Upaya pembibitan dilakukan dengan memasukkan bibit kedalam polibag dan setelah di isi didalam polibag diletakkan di dalam areal pembibitan.  Untuk menghindari terhadap gangguan babi hutan yang sering mencari makan dan menggali makanan disekitar areal persemaian dan pembibitan, tempat pembibitan dilindungi dengan waring yang menghalang aktivitas babi hutan masuk kedalam areal pembibitan.
Upaya persemaian dan pembibitan dilakukan 1 – 3 bulan sebelum penanaman.  Ini dilakukan agar bibit dapat berkecambah dulu untuk kemudian di lakukan penanaman.  Upaya ini diharapkan akan meminimalisasi kematian bibit dan meningkatkan persentase bibit yang hidup.

 

3.   Penanaman . 
Setelah bibit mulai tumbuh didalam areal pembibitan, dilakukan upaya penanaman pada areal rehabilitasi.  Upaya ini melibatkan seluruh anggota kelompok yang memobilisasi anggota masyarakat yang peduli tentang pentingnya upaya rehabilitasi mangrove.  Upaya penanaman dilakukan dengan sangat hati-hati.  Bibit yang telah tumbuh di areal pembibitan dibawa ke areal penanaman.  Setelah sampai pada daerah dekat tempat penanaman, polibagnya disobek kemudian dilakukan penggalian lubang pada areal penanaman dan dimasukkan bibit beserta tanah/lumpur kedalam lubang penanaman mangrove.  Untuk menghindari tumbangnya bibit karena tekanan arus pasang dan atau pengaruh ombak/gelombang, tiap bibit mangrove diikat pada ajir yang dipatok didekat mangrove.  Ajir ini sengaja diletakkan di samping setiap bibit yang ditanam mengingat tiap bibit yang akan ditanam belum terlalu kuat untuk menopang dirinya dan atau untuk tetap berdiri karena belum mempunyai akar yang kuat.
Pada daerah yang mempunyai potensi gelombang yang cukup tinggi, sebaiknya dilakukan pemasangan APO / APO Barlapis yang terbuat dari kayu. Bambu dan bahkan batu dan coran semen.  APO berfungsi sebagai peredam ombak sehingga pengaruhnya tidak dapat mempengaruhi bibit mangrove.

 

Pola penanaman bibit mangrove dilakukan dengan jarak satu meter antara bibit yang satu dengan yang lainnya. Penanaman bibit dilakukan serempak dengan melibatkan seluruh anggota kelompok.  Sedapat mungkin melibatkan anak sekolah agar terjadi pembelajaran yang mendasar tentang pola merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Pelajaran yang paling berharga dalam upaya rehabilitasi bagi pelajar jika pelibatan langsung kepada mereka. Ini akan membekas dalam pikiran dan hati mereka untuk mengetahui pola rehabilitasi mangrove. Dan tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan sendiri pada kawasan yang lain sebagai bagian dari upaya kokurikuler mereka. 
Pada beberapa daerah yang sangat ekstrim dengan pola pasang surut yang sangat lebar, sebaiknya jangan dilakukan pola penanaman yang konvensional.  Pola penanaman konvensional biasanya hanya penancapan bibit yang dibarengai dengan pengikatan pada ajir.  Namun sebaiknya menggunakan modifikasi pada sistem persemaian.  Modifikasi persemaian dapat dilakukan pada polibag bambu dan atau pot yang didisain khusus.  Bentuk polibag dapay dilakukan dengan panajaman pada bagian bawah yang juga berfungsi sebagai pasak untuk tiap bibit. Modifikasi juga dapat dipadu dengan pengikatan pada ajir berlapis untuk memperkokoh dudukan bibit.
Yang perlu mendapat perhatian adalah bukan seberapa banyak bibit yang kita dapat tanam tapi seberapa banyak bibit yang bisa bertahan hidup dengan kondisi lokasi yang kadang bersifat ekstrim.

 

 

4.   Pemeliharaan.
Pola pemeliharaan sebaiknya melibatkan seluruh anggota kelompok dengan menjaga tiap kaplingan areal penanaman. Tiap anggota masyarakat dipercayakan untuk menyulam tiap bibit mangrove yang kebetulan rusak atau tercabut oleh aktivitas arus dan gelombang. Untuk mengontrol kelangsungan hidup tiap bibit dan anakan mangrove, sebaiknya dilakukan pengontrolan setiap 3-4 hari sekali sampai pada saat bibit mangrove yang ditanam berusia 3 – 5 bulan. Selanjutnya dilakukan pengontrolan seminggi sekali selama 10 -12 bulan.  Setelah diatas satu tahun dapat dilakukan pengontrolan selama 1 – 2 kali sebulan.
Pemeliharaan mangrove adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar mangrove tetap hidup dan bertahan dengan baik.
Komplesitasnya kondisi fisik dan ekologis lingkungan serta kadang adanya hama dan gangguan lain membuat mangrove kadang mengalami kematian walaupun umur mangrove telag berusia diatas 8 – 12 bulan,  namun jika dilakukan pengontrolan yang rutin maka akan dapat meminimalisasi kegagalan yang ada.

 

 

Trik Rehabilitasi mangrove.
1.    Kenali daerah yang akan direhabilitasi.
2.    Kenali faktor fisik (pasang surut, pola arus, kecepatan arus, tipe substrate, gelombang), biologi (hama, jenis mangrove yang dominan, ketahanan tiap bibit, penyakit buah mangrove, gulma, epifauna) dan kimia (pH substrat, kandungan unsure hara)  daerah yang akan direhabilitasi.
3.    Lakukan persemaian dengan waktu yang dikondisikan berdasarkan jenis bibit.
4.    Lakukan pemeliharaan dengan pelibatan masyarakat setempat.
5.    Tentukan pola penanaman yang sesuai dengan bibit dan areal penanaman.
6.    Sebaiknya mengambil bibit yang bersumber pada areal terdekat.
7.    Sebaiknya menanam mangrove pada lokasi yang paling tidak pernah ditumbuhi oleh mangrove.

 

 

Posted by Maruf Kasim at 06:41:05 | Permalink | No Comments »

Monday, June 2, 2008

Dugong di Temukan di Desa Coremap Kabupaten Buton

 
Oleh : Ma’ruf Kasim.

 

Dugong umumnya bermigrasi pada tempat-tempat tertentu untuk mencari makan dan menyebar pada daerah-daerha tropis dunia (lihat penjelasan tentang Konservasi Dugong di web ini).  Penyebaran dugong ini umumnya sangat tergantung pada lingkungan perairan dan terutama sumber makanan yang berupa habitat alami beberapa jenis seagrass seperti Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp yang merupakan makanan alami dugong.  Atau kita sering menemukan dugong pada lingkungan perairan yang terlindung dari ombak dan arus yang kuat.
Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit.  Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Buton, Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri.

 

Penyebaran dugong lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan habitat lamun yang merupakan makanan utama mereka disamping topografi dan ketenangan daerah. Pada saat pasang dugong biasanya active mencari makan dan berenang dipinggir pantai bersama anaknya. Aktivitas mencari makan biasanya dilakukan dengan berenang kedasar dan memakan seagrass dengan cara bergerak kearah belakang. Beberapa ilustrasi yang terlihat dari bekas grazing dugong adalah dugong memakan hamper seluruh bagian dari lamun termasuk daun batang dan rizom.
Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp. Dan beberapa jenis lamun yang berdaun lunak Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius.  Tanpa lamun dugong akan kehilangan makanan dan ini akan berdampak pada penurunan populasi dugong itu sendiri.


Kurangnya populasi dugong disebabkan oleh beberapa factor diantaranya ; telah mulai berkurangnya habitat lamun yang merupakan makanan utama dari dugong.
Disamping itu masih maraknya perburuan dugong oleh sebagian besar masyarakat bajo yang menjadikan Dugong sebagai santapan yang lezat pengganti daging, sangat mempengaruhi populasi dugong. 
Pada bulan april 2005 dilaporkan ditemukan dugong di perairan kecamatan siontapina yang merupakan desa Coremap II Buton. Kemudian pada bulan  Juni 2007 di temukan Kecamatan Siontapina Kabupaten buton Sulawesi tenggara. Dan yang terakhir pada bulan Maret 2008, lagi ditemukan di perairan desa Lasalimu Pantai (Desa Coremap II) Kecamatan lasalimu kabupaten Buton. Provinsi Sulawesi Tenggara.
Tertangkapnya dugong tersebut karena terperangkap kedalam sero masyarakat. Diperkiraan Jumlah populasi Dugong masih ada beberapa yang hidup diperairan Kabupaten Buton walaupun populasinya diperkirakan tidak lebih dari 20 ekor. 
Setiap dugong yang tertangkap biasanya dilepaskan dan atau di simpan didalam karamba untuk sementara sebelum dilepas kelaut.  Pola pikir tentang penyelamatan lingkungan dan sumberdaya laut terutama spesies langka yang ada di laut seperti dugong,  sudah terbangun dikalangan masyarakat, khususnya setelah adanya program Coremap di Desa tersebut.

 

Kawasan Perairan Timur Indonesia adalah kawasan potensial untuk menjaga keberlangsungan kehidupan digong di Indonesia. Hal ini karena masih adanya beberapa daerah yang mempunyai habitat lamun yang masih terjaga.  Untuk itu akan sangat diharapkan peran semua pihak khususnya masyarakat pesisir  kawasan timur Indonesia untuk dapat bersama sama menjaga keberlangsungan dugong sebagai salah satu hawan langka patut untuk dilindungi bersama. 

 

Posted by Maruf Kasim at 11:40:39 | Permalink | No Comments »

Friday, March 10, 2006

Keanekaragaman Hayati Laut


Oleh Ma’ruf Kasim

Biodiversity yang merupakan perpajangan diri istilah biological diversity di kenal dengan “Keanekaragaman hayati” dan merupakan pengistilahan dari seluruh mahluk hidup tingkat tinggi (hewan dan tumbuhan) maupun tingkat rendah (micro-organisma) serta seluruh komponen lingkungan fisik, biologi dan ekologi.  Istilah ini juga menggambarkan kekayaan organisma hidup yang ada pada suatu kawasan tertentu.  Di dunia terdapat lebih dari 1.75 juta jenis dari organisma yang diketahui dan ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan pengkategorian penemuan jenis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.  Sampai saat ini pun penggolongan jenis dari organisma belum sepenuhnya mengungkapkan seluruh jenis hewan, tumbuhan dan micro-organisma yang ada di dunia. 

Image hosting by Photobucket

Hampir sekitar 3 – 100 juta jenis yang belum di ketahui yang tersebar di seluruh kawasan-kawasan khusus yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Satu di antara tiga pengkategorian keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman hayati tingkat genetik yang dikenal dengan Genetic Diversity. Keanekaragaman genetik ini merupakan unsur terkecil dari pengkategorian keanekaragaman hayati. Level ini merupakan bagian dari keanekaragaman tingkat spesies (species diversity) yang ada dalam suatu populasi dan mencegah proses interbreeding serta pengaruh dari perubahan lingkungan, penyakit dan pengaruh fisik lainnya. Level terbesar dari keanekaragaman hayati ini adalah keanegaraman hayati tingkat ekosistem yang dihuni oleh pupolasi-populasi hewan atau tumbuhan tingkat tinggi dan rendah yang berada di laut, pantai, sungai, danau, rawa, padang rumput, daerah batuan, hutan, padang pasir, pegunungan, perbukitan, lembah, dan lain-lain.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : adlumintu.com 

Pada tahun 1992, di Rio de Janeiro, telah di sepakati dua ketetapan yaitu konvensi perubahan lingkungan global (Climate change) dan keanekaragaman hayati (Biological diversity).  Perjanjian ini merupakan perjanjian pertama secara global dalam upaya konservasi sumberdaya termasuk upaya perlindungan keanekaragaman hayati yang harus di tindak lanjuti oleh tiap Negara dengan upaya perlindungan sumberdaya keanekaragaman hayati secara rill.  Lebih dari 180 negara di dunia yang sekarang telah melaksanakan konvensi tentang keanekaragaman hayati tersebut.  

Image hosting by Photobucket

Secara umum perjanjian tersebut mempunyai tujuan antara lain; upaya perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati, Pemanfaatan yang arif dan berkesinambungan dari tiap komponen biodiversity tadi dan terakhir adalah penyelarasan peningkatan pemanfaatan sumberdaya yang dilakukan secara komersil atau upaya pemanfaatan sumberdaya dari tingkat terkecil yaitu genetic biodiversity secara arif dan dengan tetap memperhatikan unsur-unsur pelestarian.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : scouts-troinex.ch

Namun upaya ini perlu lebih di sesuaikan dengan kondisi Negara masing-masing dengan melihat seluruh aspek pendukung dan potensi negara masing-masing.Khusus dalam upaya konservasi sumberdaya bidang kelautan yang merupakan bagian dari konvensi biodiversity ini di tetapkan di Jakarta tahun 1995 yang dikenal dengan “Jakarta Mandate on Marine and Coastal Biological Diversity. Konvensi ini merupakan program aksi khusus yang di fokuskan pada upaya manajemen wilayah pesisir dan kelautan secara terpadu, pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkesinambungan, perlindungan area tertentu, upaya budidaya kelautan dan penanganan alien spesies.  Ini merupakan pioneer dari seluruh upaya perlindungan keanekaragaman hayati kelautan yang akan ditetapkan oleh sebagain besar Negara yang mempunyai potensi kelautan serta seluruh aspek pendukungnya.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : sailingisues.com

Indonesia sendiri mengaplikasikan upaya tersebut dengan berbagai program-program kerja dan peraturan pemerintah yang menyentuh pada upaya pelestarian sumberdaya pesisir dan kelautan serta adanya kawasan-kawasan konservasi dan taman laut nasional.  Wujud rill lain tentunya telah dan tetap di lakukan baik itu sebelum dan sesudah penandatangan perjanjian tadi.  Namun upaya serius masih tetap diharapkan lebih banyak, tentunya dengan melihat potensi tiap daerah atau kekhasan keanekaragaman hayati yang ada dan bukan saja dengan upaya perlindungan hewan atau tumbuhan endemik tetapi juga dengan upaya penyelamatan ekosistem yang telah rusak dan lambat laut hilang.

Image hosting by Photobucket

sumber foto : eia-international.org

Posted by Maruf Kasim at 06:58:55 | Permalink | Comments (5)

Friday, February 24, 2006

Belajar dari Jepang dalam Memanjakan Alam

Oleh Ma’ruf Kasim 

Tidak terlalu berlebihan jika kita mau melihat Negara lain dalam upaya perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya, terutama dalam menjaga kelangsungan ekosistem dalam suatu Kawasan tertentu.
Jepang adalah salah satu negara maju dengan perkembangan tekologi yang begitu pesat.  Ini lah yang mendorong percepatan perubahan lingkungan begitu cepat. Namun perubahan itu di imbangi dengan pola pemeliharaan lingkungan yang sangat disiplin.  Penataan Lingkungan sebagai suatu Kawasan perlindungan dan konservasi sangat mewarnai pengelolaan kawasan alami di beberapa tempat di seluruh Jepang.  Khususnya daerah Hokkaido yang mempunyai sangat banyak kawasan konservasi alam, begitu terjaga keaslian dan kecantikannya.  Salah satu kawasan di Hokkaido yang oleh ENICEF pada musim panas tahun lalu (2005) di tetapkan sebagai salah satu kawasan di dunia yang sangat terjaga keaslian dan kealamiannya  adalah Shiretoko yang terletak di sebaleh utara Hokkaido. 

Image hosting by Photobucket

Sumber foto : famille.ne.jp


Kawasan ini merupakan kawasan yang amat sangat alami dengan struktur ekosistem daerah dingin yang asli.  Kita masih dapat menyaksikan begitu cekatannya seekor beruang  menangkap ikan di sepanjang sungai, sementara di sekitar itu pula ratusan ekor deer berjalan dan memakan rumput di padang yang luas serta ribuan burung dan ratusan spesies hewan lain yang tetap eksis.  Ataupun keunikan tingkah laku anjing laut yang penguin yang lucu masih mewarnai kawasan pinggir laut Shiretoko.  Pemandangan alami seperti ini nampaknya memberikan gambaran begitu indah dan kompleksnya sistem ekologis hutan dan pesisir pantai.  Keberadaan tumbuhan sebagai produsen primer dan hewan kecil dan besar sebagai consumer serta beberapa hewan lain sebagai predator memberikan gambaran rantai makanan dan siklus materi yang sangat apik.  Shiretoko hanyalah salah satu dari sekian banyak kawasan perlindungan alam di Jepang yang sampai sekarang masih terjaga, disamping kawasan konservasi Akan, Marsh Kushiro dan banyak lagi.

Image hosting by Photobucket

Sumber foto : hotel-shiretoko.com

Lalu bagaimana bisa ekosistem alami itu bisa terjaga?.  Peranan pemerintah yang sangat di dukung oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga sistem ekologis lingkungan begitu kuat.  Mungki karena sebagian besar masyarakat Jepang sadar dari beberapa pengalaman pahit yang melanda negeri ini karena ketidak stabilan lingkungan dan masalah pencemaran yang sangat akut.  Kita masih mengingat kasus minamata yang memakan korban ratusan warga.  Dan beberapa bencana alam yang mamakan ratusan korban.
Bukan berarti Negara Jepang tidak punya masalah dengan perlindungan dan pemeliharaan lingkungannya.  Sebagai Negara yang sangat cepat pekembangan Industrinya, tentunya laju perubahan tata-ruang alam dan kebutuhan lokasi pengembangan sangat tinggi.  Namun ini di barengi dengan kegigihan pemerintah setiap daerah dalam upaya untuk membuat penataan dan pengkajian lingkungan yang begitu rapih dan disiplin.
Upaya perlindungan alam sangat di tunjang oleh sangat banyak factor dan keterlibatan masyarakat serta stakeholder lain yang berkerja secara padu.  Kita tentunya akan sangat merindukan melihat kawasan alami yang masih terjaga. 

Image hosting by Photobucket

sumber foto : bali-bird-park.com

Tentunya bukan hanya nagara Jepang yang mempunyai kawasan perlindungan dan konservasi alam.  Sebagai kawasan tropis yang sangat amat kaya dengan ribuan  bahkan jutaan hewan dan tumbuhan asli di tambah dengan ratusan hewan endemik yang khas dan tipical untuk tiap daerah di seluruh kawasan Negara tercinta Indonesia,  memberikan potensi yang sangat besar bagi penataan pengembangan kawasan konservasi. 

Image hosting by Photobucket

Sumber foto : wildanimalpark.com.au


Kita memiliki begitu banyak hewan yang masuk dalam kategori hampir punah.  Namun apakan kita mampu memertahankannya untuk tidak punah ?.  Kita memiliki jutaan hektar hutan dan kawasan estetik yang sangat cantik, namun apakah kita bisa menjaga dan mengembangkannya sebagai kawasan konservasi yang bukan hanya diatas kertas?.  Saya sangat percaya kalau kita masih mempunyai dan kalau bisa saya katakan masih amat sangat mencintai dan merindukan keaslian alam kita.  Kasus Timika yang sampai saat ini masih terus berlanjut dengan “perampasan secara halus” kekayaan alam papua yang kita cintai, pencemaran sungai dan teluk Buyat, di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan kadar sianida yang tinggi, belum tuntas dan masih meninggalkan tanda tanya besar. Kasus banjir bandang di Jawa timur masih meninggalkan duka yang dalam, kekeringan di beberapa kawasan di jawa terus menggoreskan ketakutan warga setempat serta masih banyaknya teguran alam terhadap kita yang kurang bijaksana dalam merawat alam kita.  Alam dan lingkungan kita tidak butuh kemanjaan yang teoritis.  Alam membutuhkan pengertian dan perhatian kita untuk kembali melihat dan menjaganya agar “teguran” yang menakutkan tidak akan di rasakan oleh anak cucu kita.

Image hosting by Photobucket

Belum cukupkan “teguran” itu mengingatkan kita untuk sadar. Mengapa kita tidak belajar dari negara seperti Jepang dan atau beberapa Negara lain yang mau kembali menyapa alam dengan lembut, merawat alam dengan perlakuan rill serta memanjakan alam bukan hanya dengan kata-kata.
Salam 

Posted by Maruf Kasim at 06:58:19 | Permalink | Comments (6)

Thursday, February 23, 2006

Kawasan Mangrove dan Konsep Ecotourism

Oleh Ma’ruf Kasim

Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang sangat unik, karena keberadaan ekosistem ini pada daerah muara sungai atau pada kawasan estuary.  Mangrove hanya menyebar pada kawasan tropis sampai subtropics dengan kekhasan tumbuhan dan hewan yang hidup disana.  Keunikan ini tidak terdapat pada kawasan lain, karena sebagian besar tumbuhan dan hewan yang hidup dan berasosiasi di sana adalah tumbuhan khas perairan estuary yang mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup luas.

sumber foto : tropical-island.de

Kita tidak akan membahas lebih jauh tentang kondisi biologi dan ekologi hutan mangrove, namun kali ini saya mencoba memberikan suatu gambaran singkat tentang konsep Ecotourism (Eko-wisata) pada kawasan mangrove.

 

Eko-wisata dewasa ini menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata.  Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam.  Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan sector management yang terpadu serta seluruh stakeholders’  yang terkait.  Namun pada prinsipnya cukup sederhana dengan pola management lingkungan yang rill. 

Konsep tersebut tidak akan terlepas dari:

1.       Penataan Lingkungan Alami.

2.       Nilai Pendidikan (Penelitian dan pengembangan).

3.       Partisipasi Masyarakat Local dan Nilai Ekonomi

4.       Upaya Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan.

5.       Minimalisasi Dampak dan Pengaruh Lingkungan (tentunya     dengan beberapa strategi khusus).

sumber foto :courses.washington.edu

 

Lantas mengapa mangrove sangat potensil bagi pengembangan konsep eko-wisata ini ?.  Jawabannya ada pada kondisi mangrove yang sangat unik serta model wilayah yang dapat di kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisma yang hidup disana.

sumber foto : adventureantigua.com

Untuk mudahnya kita bisa melihat beberapa contoh pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada pemeliharaan lingkungan itu sendiri.  Suatu kawasan akan bernilai lebih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu pengembangan kawasan wisata.  Lebih jauh pada kawasan mangrove, dengan estetika wilayah pantai yang mempunyai berjuta tumbuhan dan hewan unik akan menjadi daya tarik tersendiri. Yang lebih penting lagi adalah nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan yang sangat besar yang ada di kawasan hutan mangrove. 

Promosi pengembangan hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata harus lebih terpusat pada ketiga nilai tadi, tentunya dengan melihat pula keseimbangan ekologis dari seluruh potensi tadi.

Posted by Maruf Kasim at 09:13:59 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, January 3, 2006

Penyu Laut, Hewan cantik yang tergusur

 

Oleh : Ma’ruf Kasim

Gerakannya yang unik dan khas seakan menggambarkan kelihayan perenang dasar laut yang mempesona. Ini mungkin bisa menggambarkan betapa unik dan indah melihat penyu laut berenang bebas di bawah permukaan laut.  Dengan menggerakkan kedua kaki renang depan untuk mengontrol gerakan dan kecepatan, hewan ini bergerak gesit di dasar laut. Juga dengan bantuan kaki belakang sebagai penyeimbang seakan memberikan kesempurnaan gaya renang yang memukau. 

  

Ada beberapa jenis (species) penyu laut yang hidup di perairan .  Diantaranya penyu hijau atau dikenal dengan nama green turtle (Chelonia mydas), penyu sisik atau dikenal dengan nama Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), penyu lekang atau dikenal dengan nama Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing atau dikenal dengan nama Leatherback turtle (Dermochelys olivacea), penyu pipih atau dikenal dengan nama Flatback turtle (Natator depressus) dan penyu tempayan atau dikenal dengan nama Loggerhead turtle (Caretta caretta). Dari jenis ini Penyu Belimbing adalah penyu terbesar dengan ukuran mencapai 2 meter dengan berat 600 - 900 kg.  Yang terkecil adalah penyu lekang dengan ukuran paling besar sekitar 50 kg.

Penyu hijau adalah salah satu jenis penyu laut yang umum dan jumlahnya lebih banyak di banding beberapa penyu lainnya.  Jenis seperti penyu belimbing di laporkan telah sangat berkurang jumlahnya dan termasuk salah satu jenis yang hampir hilang di perairan , hanya beberapa tempat yang masih sesekali menjadi tempat memijah bagi jenis penyu ini. Penyu belimbing adalah penyu yang di lindungi dan masuk dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1.  Meskipun jumlahnya lebih banyak di banding penyu lainnya, populasi penyu hijau tiap tahun berkurang oleh penangkapan dan membunuhan baik sengaja maupun tidak sengaja yang terperangkap oleh jarring dasar laut. 

Penyu laut, umumnya bermigasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama.  Kita mungkin masih ingat salah satu adegan dalam film Nemo, saat induk jantan Nemo bertemu dengan gerombolan penyu hijau yang bermigrasi.  Tidak persis sama dengan pola migrasi penyu umumnya, namum jelas memberikan gambaran bahwa penyu laut bermigrasi sebagai rangkaian dari siklus hidupnya.  Pernah di laporkan migrasi penyu hijau yang mencapai jarak 3.000 km dalam 58 – 73 hari.  Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa penyu yang menetas di perairan , di temukan di sekitar perairan dan Hawaii . 

Penyu laut khususnya penyu hijau adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivore) namun sesekali dapat menelan beberapa hewan kecil.  Hewan ini sering di laporkan  beruaya di sekitar padang lamun (seagrass) untuk mencari makan, dan kadang di temukan memakan macroalga di sekitar padang alga.  Pada padang lamun hewan ini lebih menyukai beberapa jenis lamun kecil dan lunak seperti (Thalassia testudinum, Halodule uninervis, Halophila ovalis, and H. ovata). Pada padang alga, hewan ini menyukai (Sargassum illiafolium and Chaclomorpha aerea).  Pernah di laporkan pula bahwa penyu hijau memakan beberapa invertebrate yang umumnya melekat pada daun lamun dan alga.

 

Penyu laut adalah adalah hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah permukaan laut.  Induk betina dari hewan ini hanya sesekali kedaratan untuk meletakkan telut-telurnya di darat pada substrate berpasir yang jauh dari pemukiman penduduk.  Untuk penyu hijau, seekor Induk betina dapat melepaskan telur-telurnya sebanyak 60 – 150 butir, dan secara alami tanpa adanya perburuan oleh manusia, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai kelaut kembali untuk berenag bebas untuk tumbuh dewasa.  Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % dan belum di tambah dengan adanya beberapa predator-predator lain saat mulai menetas dan  saat kembali kelaut untuk berenang.  Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan, Coenobita sp.), Burung dan tikus.  Dilaut, predator utama hewan ini antara lain ikan-ikan besar yang beruaya di lingkungan perairan pantai.

Sangat kecilnya presentase tersebut lebih diperparah lagi dengan penjarahan oleh manusia yang mengambil telur-telur tersebut segera setelah Induk-induk dari penyu tadi bertelur. 

Sangat di sayangkan memang, walaupun beberapa daerah pengeraman alami telur penyu jauh dari pemukiman penduduk, namun tidak luput dari perburuan illegal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Kondisi ini semakin menurunkan populasi penyu laut di lingkungan asli mereka.  Keunikannya tidak akan tampak lagi, saat banyak dari penduduk pantai merusak dan menjarah telur-telur meraka, memburuh induk-induk meraka dan merusak rumah-rumah mereka. 

Dewasa ini memang sangat mendesak adanya upaya manajeman perlindungan lingkungan asli hewan ini yang tidak hanya berlaku pada suatu kawasan perteluran hewan ini namun juga di beberapa daerah yang merupakan jalur migrasi hewan ini dalam mencari makan.

Upaya konservasi dan perlindungan harusnya bukan hanya di atas kertas saja namun lebih kearah praktek pemeliharaan yang rill guna menjaga kelangsungan hidup dan lingkungan alami hewan ini. 

Tentunya upaya ini akan bermuara ke realitas perlindungan lingkungan yang rill dan pemeliharaan biodiversity laut agar anak cucu kita masih dapat menyaksikan hewan ini berenang lincah di lautan bebas.  Semoga.

 

  All photo direct link from the source

Posted by Maruf Kasim at 05:35:45 | Permalink | Comments (4)

Monday, December 26, 2005

Dugong Indonesia : Konservasi yang jalan di tempat

by Ma’ruf Kasim

 

Dugong merupakan hewan mamalia laut yang sangat jarang dapat di temukan lagi pada habitat aslinya khususnya di sekitar perairan .  Penyebaran dugong di perairan dunia di catat pada longitude 30°E sampai 170°E dan antara latitude 30°N sampai 30°S. Kawasan ini mencakup Australia, Teluk Persian dan laut merah, pantai Afrika, Sri Lanka, Indonesia, Philipina, Malaysia, Thailand dan di sekitar kepulauan Pacific.

 

Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit.  Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri. Ataupun oleh pengamatan beberapa NGO yang kebetulan survey dan pengamatan tentang dugong di .

Masih sangat minimnya penelitian yang dilakukan terhadap ekologi dugong yang merupakan hambatan utama bagi upaya konservasi dugong itu sendiri. Ini karena memang sangat langka untuk dapat menemukan dugong secara langsung.  Pernah pula di laporkan, pada bulan October 1999, Nelayan Cilegon menangkap dugong dan langsung di bawa ke Oceanarium (Taman Impian Jaya Ancol). Dan saat itu pun Oceanarium telah mempunyai dugong sejak tahun 1984.

Sebagai mamalia laut, dugong sangat tergantung pada lamun (seagrass) yang merupakan habitat dan makanan alaminya. Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp.

 

Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius.

Sejak di keluarkannya Peraturan pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Konservasi Flora dan Fauna yang dalam hal ini termasuk perlindungan Dogong dugon dan lamun (seagrass). Upaya perlindungan terus berjalan tidak maksimal.

Banyak hal yang menghambat upaya konservasi itu sendiri di tambah dengan kurangnya infomasi tentang biologi dan ekologi dugong di seakan membiarkan dengan pasti hilangnya dugong dari perairan .  Sekarang pun dugong laksana sejarah yang kita hanya dapat mendengarkannya dari cerita nelayan-nelayan dulu dan atau hanya melihatnya berenang statis pada gambar dan foto-foto di museum.

  all photo direct link from the source

 

 

 

  

 

 

Posted by Maruf Kasim at 05:07:28 | Permalink | No Comments »

Estuary : Lingkungan unik yang sangat penting

by : Ma’ruf Kasim

 

Estuary adalah bagian dari lingkungan perairan yang merupakan percampuran antara air laut dan air tawar yang berasal dari sungai, sumber air tawar lainnya (saluran air tawar dan genangan air tawar). Lingkungan estuari merupakan peralihan antara darat dan laut yang sangat di pengaruhi oleh pasang surut, seperti halnya pantai, namun umumnya terlindung dari pengaruh gelombang laut.  Lingkungan estuary umumnya merupakan pantai tertutup atau semi terbuka ataupun terlindung oleh pulau-pulau kecil, terumbu karang dan bahkan gundukan pasir dan tanah liat. Kita mungkin sering melihat hamparan daratan yang luas pada daerah dekat muara sungai saat surut. Itu adalah salah satu dari sekian banyak tipe estuary yang ada di .  Tidak terlalu sulit untuk memilah atau menetukan batas lingkungan estuary dalam suatu kawasan tertentu.  Hanya dengan melihat sumber air tawar yang ada di sekitar pantai dan juga dengan mengukur salinitas perairan tersebut. Karena perairan estuary mempunyai Salinitas yang lebih rendah dari lautan dan lebih tinggi dari air tawar. Kisarannya antara 5 – 25 ppm. 

Lingkungan estuary merupakan kawasan yang sangat penting bagi berjuta hewan dan tumbuhan.  Pada daerah-daerah tropis seperti di , lingkungan estuary umumnya di tumbuhi dengan tumbuhan khas yang di sebut Mangrove.  Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran salinitasnya cukup lebar. Pada habitat mangrove ini lah kita akan menemukan berjuta hewan yang hidupnya sangat tergantung dari kawasan lingkungan ini. (saya akan mencoba mengurai Ekosistem mangrove pada artikel yang lain).

Sebagai lingkungan perairan yang mempunyai kisaran salinitas yang cukup lebar, estuary menyimpan berjuta keunikan yang khas.  Hewan-hewan yang hidup pada lingkungan perairan ini adalah hewan yang mampu beradaptasi dengan kisaran salinitas tersebut.  Dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsure terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton.  Inilah sebenarnya kunci dari keunikan lingkungan estuary.  Sebagai kawasan yang sangat kaya akan unsur hara (nutrient) estuary di kenal dengan sebutan daerah pembesaran (nursery ground) bagi berjuta ikan, invertebrate (Crustacean, Bivalve, Echinodermata, annelida dan masih banyak lagi kelompok infauna).  Tidak jarang ratusan jenis ikan-ikan ekonomis penting seperti siganus, baronang, sunu dan masih banyak lagi menjadikan daerah estuari sebagai daerah pemijahan dan pembesaran.   

Pada kawasan-kawasan subtripic sampai daerah dingin,  fungsi estuary bukan hanya sebagai daerah pembesaran bagi berjuta hewan penting, bahkan menjadi titik daerah ruaya bagi jutaan jenis burung pantai. Kawasan estuary di gunakan sebagai daerah istrahat bagi perjalanan panjang jutaan burung dalam ruayanya mencari daerah yang ideal untuk perkembanganya.  Disamping itu juga di gunakan oleh sebagian besar mamalia dan hewan-hewan lainnya untuk mencari makan.

Keistimewaan lingkungan perairan estuary lainnya adalah sebagai penyaring dari berjuta bahan buangan cair yang bersumber dari daratan.  Sebagai kawasan yang sangat dekat dengan daerah hunian penduduk,  daerah estuary umumnya di jadikan daerah buangan bagi limbah-limbah cair (kita tidak membahas limbah padat di sini yang benar-benar merusak sebagian besar lingkunagn estuary).  Limbah cair ini mengandung banyak unsure diantaranya nutrient dan bahan-bahan kimia lainnya.  Dalam kisaran yang dapat di tolelir, Kawasan estuary umumnya bertindak sebagai penyaring dari limbah cair ini, mengendapkan partikel-partikel beracun dan menyisakan badan air yang lebih bersih.  Inipun dengan kondisi dimana terjadi suplai yang terus-menerus dari air sungai dan laut yang cenderung lebih bersih dan mentralkan sebagaian besar bahan polutan yang masuk ke daerah estuary tersebut. 

Disamping itu semua, Hal yang sangat berhubungan dengan masyarakat dan kegiatan ekonomi masyarakat, lingkungan kawasan perairan estuary kebanyakan di jadikan sebagai lahan budidaya bagi ratusan kenis ikan, bivalve (oyster dan clam), crustacean (kepiting) dan invertebrate lainnya.

all photo direct link from the source

Posted by Maruf Kasim at 04:27:35 | Permalink | Comments (1) »