20 Oct
Maruf Kasim Uncategorized
Oleh : Ma’ruf Kasim
Hampir separuh penduduk bumi bermukin pada daerah pantai yang notabene merupakan pusat perdagangan antar pulau pada masa pembentukan pertama kota-kota besar di dunia. Perkembangan penduduk mendesak suatu degradasi daerah pantai yang tentu akan berdampak pada tergesernya suatu ekosistem alami ke suatu ekosistem yang terkontaminasi.
Banyak kita dapati pengusuran oleh alam terhadap beberapa kota kecil pesisir pantai yang awalnya dari pembabatan huutan mangrove. Lho kenapa bisa…! Iyah…. mudah saja kalau kita mau bijaksana melihat kebelakang. Pembentukan beberapa desa atau kota yang merampas ekosystem mangrove menjadi suatu kawasan tambak atau restorasi pantai dan penimbunan pantai untuk kawasan industri dan pemukiman tanpa memperhatikan green belt atau batas layak alami. adalah penyebab mendasar yang akan berdampak pada penggusuran oleh alam. Coba kita runut beberapa contoh kecil yang tentunya mudah di mengerti.
Kawasan pemukiman Bahari (iyah lah pakai nama bahari khan dekat laut) yang mempunyai pertambakan ikan bandeng dari hasil penggundulan mangrove dan areal pembudidayaan kepiting yang tidak kalah luasnya membarikan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat setempat. Namun tanpa di sadari, karena getolnya “perlombaan” pembuatan areal pertambakan membuat desa tersebut “lebih cerah” di pandang dari lautan ketimbang dari jalan umum angkutan darat. Tanpa mereka sadari, semakin menipisnya areal magrove membuat angin yang bertiup sedikit lebih kencang mereka rasakan karena tidak adanya penghambat yang menurunkan kecepatan angin dan suasana sejuk. Tapi kalau angin mungkin mereka akan terbiasa setelah beberapa kurun waktu. Yah namanya juga resiko hidup di pinggir pantai, yah harus tahan dengan angin yang sedikit keras. Tapi apakah hanya sebatas angin…?. Pola pasang surut laut yang membawa arus pantai ke darat akan memasuki kawasan tersebut dan akan menenggelamkan beberapa daerah yang persis dekat dengan pantai…. lagi-lagi itukan siklus alami yang mereka juga akan terbiasa… toh akan surut dan akan kering kembali. Walau bahkan di beberapa kawasan pemukiman, air pasang yang naik bahkan telah “bertamu” keadalam rumah lewat pintu belakang. Iyah lah…. Tidak sedikit kawasan yang oleh penaikan masa air yang secara perlahan-lahan justru telah menggeser dan meneggelamkan setengah kawasan pantai… bukan itu saja hampir semua kawasan pinggir pantai akan sangat kesulitan mendapatkan sumber air tawar yang memadai dan bahkan tanpa mereka sadari meningkatnya populasi nyamuk malaria di daerah kawasan pantai adalah efek langsung dari terhapusnya habitat nyamuk “kawasan mangrove” pada daerah tersebut. Belum lagi ombak besar yang sewaktu-waktu akan datang oleh pola pergerakan musim yang tidak sedikit kawasan pantai tertutup dan terrendam oleh air laut. banyak sudah program pemeliharaan pantai yang “terkampanyekan” pada beberapa kawasan pantai. Banayk sudah program perlindungan dan pemeliharaan yang hanya sebatas retorika belaka. Dan miliaran rupiah sudah dana yang “terhanyut” oleh program rehabilitasi mangrove yang tidak sepenuhnya terealisasi. Bukan oleh tidak becusnya program penanaman kembali atau penghutanan kembali, namun tanpa kita sadari alam akan sangat sulit memaafkan pola kita yang “merampok” keasliannya. ©Ma’ruf Kasim.
Leave a reply