03 Jan
Posted by: Maruf Kasim in: Uncategorized

Oleh : Ma’ruf Kasim
Gerakannya yang unik dan khas seakan menggambarkan kelihayan perenang dasar laut yang mempesona. Ini mungkin bisa menggambarkan betapa unik dan indah melihat penyu laut berenang bebas di bawah permukaan laut. Dengan menggerakkan kedua kaki renang depan untuk mengontrol gerakan dan kecepatan, hewan ini bergerak gesit di dasar laut. Juga dengan bantuan kaki belakang sebagai penyeimbang seakan memberikan kesempurnaan gaya renang yang memukau.

Ada beberapa jenis (species) penyu laut yang hidup di perairan . Diantaranya penyu hijau atau dikenal dengan nama green turtle (Chelonia mydas), penyu sisik atau dikenal dengan nama Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), penyu lekang atau dikenal dengan nama Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing atau dikenal dengan nama Leatherback turtle (Dermochelys olivacea), penyu pipih atau dikenal dengan nama Flatback turtle (Natator depressus) dan penyu tempayan atau dikenal dengan nama Loggerhead turtle (Caretta caretta). Dari jenis ini Penyu Belimbing adalah penyu terbesar dengan ukuran mencapai 2 meter dengan berat 600 - 900 kg. Yang terkecil adalah penyu lekang dengan ukuran paling besar sekitar 50 kg.
Penyu hijau adalah salah satu jenis penyu laut yang umum dan jumlahnya lebih banyak di banding beberapa penyu lainnya. Jenis seperti penyu belimbing di laporkan telah sangat berkurang jumlahnya dan termasuk salah satu jenis yang hampir hilang di perairan , hanya beberapa tempat yang masih sesekali menjadi tempat memijah bagi jenis penyu ini. Penyu belimbing adalah penyu yang di lindungi dan masuk dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1. Meskipun jumlahnya lebih banyak di banding penyu lainnya, populasi penyu hijau tiap tahun berkurang oleh penangkapan dan membunuhan baik sengaja maupun tidak sengaja yang terperangkap oleh jarring dasar laut.
Penyu laut, umumnya bermigasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Kita mungkin masih ingat salah satu adegan dalam film Nemo, saat induk jantan Nemo bertemu dengan gerombolan penyu hijau yang bermigrasi. Tidak persis sama dengan pola migrasi penyu umumnya, namum jelas memberikan gambaran bahwa penyu laut bermigrasi sebagai rangkaian dari siklus hidupnya. Pernah di laporkan migrasi penyu hijau yang mencapai jarak 3.000 km dalam 58 – 73 hari. Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa penyu yang menetas di perairan , di temukan di sekitar perairan dan Hawaii .
Penyu laut khususnya penyu hijau adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivore) namun sesekali dapat menelan beberapa hewan kecil. Hewan ini sering di laporkan beruaya di sekitar padang lamun (seagrass) untuk mencari makan, dan kadang di temukan memakan macroalga di sekitar padang alga. Pada padang lamun hewan ini lebih menyukai beberapa jenis lamun kecil dan lunak seperti (Thalassia testudinum, Halodule uninervis, Halophila ovalis, and H. ovata). Pada padang alga, hewan ini menyukai (Sargassum illiafolium and Chaclomorpha aerea). Pernah di laporkan pula bahwa penyu hijau memakan beberapa invertebrate yang umumnya melekat pada daun lamun dan alga.

Penyu laut adalah adalah hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah permukaan laut. Induk betina dari hewan ini hanya sesekali kedaratan untuk meletakkan telut-telurnya di darat pada substrate berpasir yang jauh dari pemukiman penduduk. Untuk penyu hijau, seekor Induk betina dapat melepaskan telur-telurnya sebanyak 60 – 150 butir, dan secara alami tanpa adanya perburuan oleh manusia, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai kelaut kembali untuk berenag bebas untuk tumbuh dewasa. Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % dan belum di tambah dengan adanya beberapa predator-predator lain saat mulai menetas dan saat kembali kelaut untuk berenang. Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan, Coenobita sp.), Burung dan tikus. Dilaut, predator utama hewan ini antara lain ikan-ikan besar yang beruaya di lingkungan perairan pantai.

Sangat kecilnya presentase tersebut lebih diperparah lagi dengan penjarahan oleh manusia yang mengambil telur-telur tersebut segera setelah Induk-induk dari penyu tadi bertelur.
Sangat di sayangkan memang, walaupun beberapa daerah pengeraman alami telur penyu jauh dari pemukiman penduduk, namun tidak luput dari perburuan illegal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kondisi ini semakin menurunkan populasi penyu laut di lingkungan asli mereka. Keunikannya tidak akan tampak lagi, saat banyak dari penduduk pantai merusak dan menjarah telur-telur meraka, memburuh induk-induk meraka dan merusak rumah-rumah mereka.
Dewasa ini memang sangat mendesak adanya upaya manajeman perlindungan lingkungan asli hewan ini yang tidak hanya berlaku pada suatu kawasan perteluran hewan ini namun juga di beberapa daerah yang merupakan jalur migrasi hewan ini dalam mencari makan.
Upaya konservasi dan perlindungan harusnya bukan hanya di atas kertas saja namun lebih kearah praktek pemeliharaan yang rill guna menjaga kelangsungan hidup dan lingkungan alami hewan ini.
Tentunya upaya ini akan bermuara ke realitas perlindungan lingkungan yang rill dan pemeliharaan biodiversity laut agar anak cucu kita masih dapat menyaksikan hewan ini berenang lincah di lautan bebas. Semoga.
All photo direct link from the source
5 Responses
topan
20|Jan|2006 1bagaimana bisa diupayakan penduduk setempat melindungi keberada telur2 tersebut, misal:Pemerintah setempat memberikan insentif bagi yg melakukan pelestarian.Karena masalah finansial mereka melakukan hal2 spt itu ( penjarahan )
Maruf
26|Jan|2006 2Benar memang kita banyak di hadapkan pada masalah ekonomi yang mau tidak mau memaksa masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya dengan pemikiran jangka pendek.
Perlu lebih arif lagi memikirkannya dengan penyadaran jangka panjang.
Kita tidak mungkin hanya mengharapkan Pemerintah untuk mensuport upaya penyelamatan ini. perlu kerjasama dari semua stekholder untuk lebih fokus dan realistis akan masalah ini.
designani
16|Feb|2006 3KEREn!!Update terus yah..saya suka banget artikel anda…
Karena saya pengemar berat National Geographic…
*acung jempol*
Anonymous
15|Jan|2009 4Ya, penyu hijau dan penyu2 lainnya, sedang mengalami kondisi yg memprihatinkan.. Di Bandung saya perhatikan disebuah pasar ikan didaerah lingkar selatan, sering sekali menjual tukik penyu hijau dalam air tawars seharga 25rb, di kaskus.com tukik ini juga dijual seharga 75rb sampai 100rb, didistribusikan Jakarta-Bandung, penjual dapat menstok lebih dari 30 ekor untuk dijual, yg parahnya, sekarang mreka mampu menjual ke seluruh Indonesia, dengan alasan menguntungkan secara komersil.. memprihatinkan… sudah saya peringatkan penjual di kaskus ini tapi dia nampaknya tidak peduli… kesal rasanya…
Maruf Kasim
11|Nov|2009 5Perlu perhatian dari semua pihak untuk mau peduli dan sadar bahwa sumberdaya ini lambat laut mulai berkurang dan tidak mustahil akan hilang
Leave a reply
Search
Calendar
Tags
Belajar dari Jepang dalam Memanjakan Alam Dugong di desa Coremap Dugong Indonesia : Konservasi yang jalan di tempat Estuary : Lingkungan unik yang sangat penting Kawasan Mangrove dan Konsep Ecotourism Keanekaragaman Hayati Laut Kehidupan Pesisir Batuan Kenali Padang Lamun untuk di Lindungi Mengenal Diatom Mengenal Dugong Mengintip Keindahan Diatom Nyanyian Kematian Pantai Berpasir Pantai Kita Penyu Laut, Hewan cantik yang tergusur Pola Percampuran Estuary Rehabilitasi Mangrove Rumput Laut seagrass seagrass bukan alga Strategi Penyelamatan SDA Tripneustes gratillaArchives
Recent Comments
Recent Posts
Categories
Powered by Blog.com